Tulisan yang Dekat Itu Bukan Karena Pintar, Tapi Karena Peduli

Kamu pernah nggak, baca tulisan yang pembahasannya menarik, relate sama kehidupan sehari-hari — tapi setelah selesai dibaca, nggak ada yang melekat? Nggak ninggalin bekas apa-apa. Kalau kata orang, “feelnya nggak dapet.” Bukan karena tulisannya jelek. Bukan juga karena topiknya nggak penting. Tapi ada sesuatu yang hilang di sana — sesuatu yang bikin tulisan terasa jauh, padahal isinya udah bagus.

Tulisan yang baik bukan yang paling pintar. Tapi yang paling berasa di hati pembacanya.

Nah, ada satu hal kecil yang bisa mengubah cara kita menulis — dan dampaknya besar.

Namanya: nulis untuk satu orang. 

Maksudnya begini. Coba bayangkan kamu lagi ngobrol sama satu orang saja. Bisa teman, sahabat, atau siapa pun orang terdekat kamu. Lalu tulis seolah-olah tulisan itu memang khusus kamu buat untuk dia. Kedengarannya sederhana. Tapi efeknya luar biasa.

Coba bandingkan dua kalimat ini:

Perbandingan gaya penulisan
  • Nulis untuk banyak orang:

“Wajar banget kalau kamu ngerasa hidup itu berat. Semua orang pernah ngerasain hal itu.”

  • Nulis untuk satu orang:

“Aku nggak tahu seberapa berat hidup yang kamu jalanin. Tapi nggak apa-apa, kok. Kamu nggak sendirian.”

Isinya mirip. Tapi rasanya beda banget, kan? Yang kedua terasa lebih hangat, lebih hadir, lebih manusiawi. Kenapa? Karena kita nggak lagi menulis untuk massa—kita menulis untuk seseorang.

Ketika kita nulis untuk satu orang, ada sesuatu yang berubah secara nggak sadar. Kita jadi lebih empati. Kita lebih pelan. Kita nggak buru-buru kasih nasihat atau solusi—kita mulai dengan nemenin dulu. Dan itulah yang bikin tulisan jadi dekat.

Nulis untuk satu orang artinya kita nggak lagi pengen kelihatan paling paham. Kita nggak lagi ngajarin. Kita cuma pengen nemenin — dan dari sana, baru pelan-pelan kasih pendapat sebagai teman yang peduli.

Kalau kamu masih bingung, coba tes sederhana ini: baca ulang tulisanmu keras-keras.

  • Kalau kedengarannya kayak lagi ngobrol sama teman — aman, lanjutkan.
  • Kalau kedengarannya kayak lagi presentasi di depan kelas — coba sederhanakan lagi.

Tulisan nonfiksi nggak harus selalu terdengar tinggi dan formal. Kadang, justru dengan lebih personal, tulisan kita bisa jadi lebih hangat, lebih dekat, dan lebih punya “rasa”.

Tulisan yang kamu tulis itu suatu saat akan dibaca seseorang — sendirian, mungkin lagi capek, mungkin lagi bingung. Dan kamu ada di sana, lewat kata-katamu. Jadi nggak perlu tulisan yang paling sempurna. Cukup yang paling jujur dan paling terasa. Semoga tulisanmu menemukan pembacanya. 🤍


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *